Kamis, 24 Januari 2013

Cerita remaja


UNTUK MU

Siang itu Rania sedang duduk di teras depan, ia duduk di bangku malas nya sambil memegang buku diary nya, dan air mata yang mengalir di mata nya yang indah sangat deras, hidung nya yang putih dan mancung berubah menjadi warna ke merah mudaan. Ia baru saja kehilangan orang yang benar-benar ia sayangi, Rafa orang yanag hampir 1 tahun menemani nya kini pergi meninggalkan nya dan takkan kembali lagi untuk selamanya.

“rafa,, kamu kok tega ninggalin aku,,, kamu kan dah janji gak bakal tinggalin aku..” tangis rania.
“nak udh jangan nangis.. ibu tahu kamu sangat terpukul,,,” sahut ibu nya sambil memeluk rania.
“tapi bu,,, rani bener-bener sayang sama dia bu,, ..” jawab rania sambil terus menangis.
“udah udah,,, sekarang kamu shalat nak, doa kan rafa biar dia disana tenang dan hati mu tenang nak.,,” saran ibunya.
“..............”
Rania tidak menjawab nya lagi, tapi dia langsung masuk ke dalam rumahnya dan masuk ke kamar nya, ia shalat dan mengaji.

KE ESOKAN HARINYA
Tepat pukul 04.30 rania bangun dan langsung mandi dan bersia-siap untuk berangkat kuliah. Pukul 06.00 rania keluar dari kamar nya dan langsung menuju ruang makan. Ia duduk di kursi makan tanpa memakan sarapan yang sudah di sediakan ibunya itu.
“nak sarapan dulu, jangan di liatin aja ntar gak enak roti sama susunya” perintah ibunnya.
“.............”
Rania tidak menjawab, dia langsung saja memakan rotinya. Matanya yan agak bengkak mengisyaratkan selama semalaman ia menangis. Rania tidak menghabiskan sarapan nya itu. Ia langsung meminum susu dan berpamitan kapada ibunya.

“sabar sayang.. kamu pasti bakal dapetin yang lebih...” bisik ibunya ketika rania sudah berjalan jauh.
Setibanya di kampus, rania tidak seceria biasanya, dia menunjukkan muka yang sangat sedih. Ketika sedang berjalan menuju ruang kelas nya ia terhenti sejenak di dekat lapang basket. Ia membayangkan ada rafa disana yang setiap pagi berlatih basket di lapang. Mata rania pun berkaca-kaca dan air matanya pun mengalir. Dia sangat terpukul atas kepergian rafa.
“rania,,, sabar ya.. gua tau e’lo pasti sakit banget...” sahut vania temen dekat nya.
“iya ran, e’lo harus tabah ya,, e’lo jangan nangis, kallo e’lo nangis rafa pasti ikut sedih...” tambah devanya.
“iya...”jawab singkat rania.
“udah lah sekarang kita masuk kelas aja ya,,  bentar lagi pak suryo masuk...” ajak ke dua temen deketnya itu.
Akhirnya rania pun beranjak dari tempatnya dan masuk ke ruang kelas nya, di dalam kelas semua temen nya ikut berduka dan memberi suport pada rania.
Hari-hari rania kini sangat hampa tanpa kehadiran rafa, dia tak seceria dahulu saat ada rafa di dekat nya, kini dia menjadi seorang yang sangat pendiam, dia kini tidak banyak bicara dia hanya melamun dan melamun dan menatap terus foto rafa dan dirinya.
Di rumahnya pun dia tak banyak bicara, setiap dia pulang ke rumah dia langsung masuk kamarnya dia selau mengurung dirinya, hingga suatu hari ibunya menemui rania pingsan di kamar mandi, ibu rania membawa rania ke rumah sakit.
“dok,,, anak saya kenapa dok..?” tanya khawatir ibu rania.
“dia gak apa-apa bu, dia hanya kecapean atau mungkin terlalu banyak fikiran bu,” jelas dokter pada ibu rania
“ouh ya udah kallo gitu makasih ya dok,,,” sambil bersalaman.
Ibu rania pun menuju ruang rania, ibu rania pun membawa rania pulang ke rumah dan menyuruh rania beristirahat agar kedaannya semakin membaik.
“bu,, rani pengen ketemu rafa bu...”
“asstagfirullah nak,, rafa sudah tenang di alam sana, kamu jangan bicara kayak gitu, nanti dia malah gak tenang.”
“iya deh bu,, bu papah juga mungkin tenang ya di alam sana...” tiba-tiba rania menangis.
Ibu rania tidak menjawab ibu ranai pun ikut menangis dan memeluk rania.
“nak papah mu insya allah sudah berada di alam yang sangat indah,, papah mu orang baik nak..” sambil menangis.
Ibu dan anak itu saling berpelukan dan menangis, karena orang yang sama-sama ia sayangi telah pergi untuk selamanya.

Malam... sepi tanpa bintang
Gelap tanpa bulan, yang ada hanya suara angin malam yang berhembus,
Dingin nya malam, mungkin dapat mengisyartakan dingin nya juga hati ini,
Daun yang melambai lembut kepadaku seolah mengerti keadaan q saat ini,
Mereka , orang yag q sayang, kini telah tenang disana,
Tuhan,, jaga mereka, karena aq sayang mereka
                                    Rani

 










Rania menulis sebuah puisi untuk mencurahkan isi hatinya saat ini. Dia memang sangat senang menulis puisi.
3 bulan berlalu dari meninggal nya rafa, rania masih tetap tidak bersemangat, ia masih tetap dalam pada kesedihan nya.
“rafa,, udah mau hari ke 100 e’lo gua masih belum bisa lupain e’lo fa,” ucap rania pada fot rafa yang masih ia simpan di dompetnya.
“udah dong ran, e’lo harus move on, e’lo pasti bisa lupain dia mesti gua tau itu berat.” Ucap devanya.
“iya ran, e’lo tuh harus bisa ran,” tambah vania.
“hey,, e’lo tuh gak bakal pernah tau perasaan gua, karena e’lo berdua belum pernah ngalamin keadaan kayak gua..” marah rania.
“iya maaf ran gua tau, tapi e’lo gk bisa kayak gini terus,,” sambut vania.
Tapi rania malah pergi keluar ruangan kelas nya dan menuju kamar mandi. Rania yang tidak tau kalo lantai kamar mandi itu basah tiba-tiba rania terpeleset, tapi ada yang menahan nya.
“makasi ya,,” ucap rania.
“iya sama-sama..”jawab seorang pria yang menolong  nya.
Rania menatapa pria itu, ia seperti mengenali wajah pria itu, ia begitu kaget, wajahnya pria tadi hampir mirip dengan rafa.
“rafa,,, e’lo hidup lagi..” teriak rania sambil memeluk pria itu.
“hah,, maaf gua bukan rafa gua brian,,” jawab pria itu.
“oh maaf ya,, “sambil melapaskan pelukan nya.
“iya gpp..” sambil mengajak rania jalan dan duduk di bangku dekat ruang lab.
Rania hanya melamun dan menangis kecil, brian yang ada di sampingnya merasa aneh dengan sifat rania.
“hey.,, kenpa e’lo nangis?” tanya brian
“...........” rania hanya terdiam dan terus menangis.
“maafin gua deh kallo gua dah ganggu e’lo..”
“ehh,, e,,eng gak kok..” jawab rania sambil terbata bata akibat menangis.
“oya.. gua brian anak kelas seni.. e’lo?”
“ouh kamu senior aq ya,,?” Tanya rania..
“iya,,, eh e’lo siiapa?”
“aq rania, panggil aq aja rani,, “ jawab rania.
“ouh,, ya udah gua ke kelas dulu ya ada jadwal kuliah ni..”
“iya kak..”
Brian pun meninggalkan rania sendiri, dia duduk termenung, kini hati rania sudah agak mendingan, ia merasa aneh ketika dia melihat brian pertama kali dia langsung merasa nyaman.
Rania pun pergi dari tempat itu untuk menuju ruang kelas nya. Dia masih merasa aneh dengan perasaan nya itu.
“rania e’lo dari mana?” tanya vania dan devanya
“gu.. gu gua,, da da...” jawab rani yan terbata-bata dan terpotong pembicaraan nya oleh vania.
“dari man e’lo..? kok e’lo ngomong nya gagap gitu sihh..?” tanya devanya
“iihh gua dari kamar mandi,, gua tadi ketemu kak brian,, gu baru nyadar dia hampir mirip kayak rafa...”
“hahhhh... kak brian..? senior kita?” kaget vania dan devanya.
Rania hanya menganggut dan wajah nya kini agak sedikit berbeda, dia sedikit bahagia. Rania, devanya dan vania pun pulang karena jam kuliah sudah habis.
“ran.. mau ikut kita-kita gak nonton...? tanya devanya
“ah,, enggak ah makasi dev, mau langsung pulang, kepala agak sakit nih,,” jawab rania lembut.
“oh ya udh gua sama vania berangkat ya,,, ati-ati ya,, byyee...”
Rania hanya tersenyum dan melambaikan tangan nya pada devanya dan vania, dia langsung berjalan ke arah luar gerrbang kampus, dia terus berjalan dia membayangkan wajah brian seniornya tadi yang mirip dengan rafa, dia berfikiran kallo brian kakak nya rafa, tapi tidak mungkin, rafa hanay anak satu-satunya.
Raffa,,, gua kangen e’lo dan maen di taman ini.. gumam hati rania yang berhenti di taman tempat ia sering bermain bersama raffa,. Dia duduk di bawah pohon yang rindang, dia membayangkan saat-saat terakhir kali bersama raffa di taman itu, dari matanya kini telah turun air mata yang sangat banyak, dia sangat terpukul bila mengingat massa nya itu.
Ketika rania sedang menagis tiba-tiba Hp nya bergetar, dia melihat Hp nya di sana ada pesan masuk yang melalui jejaring sosial fb.
“rani,, ini rania kan?”
Rania aneh, dia tidak mengenal namanya, dia pun melihat profilnya, ketika di lihat ternyat brian, raniapun sedikit terhibur, dia memberi senyuman kecil bahagia. Rania pun membalas pesan itu.
“iya kak, ini rani”
Rania pun lalu berdiri dari tempat duduknya itu, rania langsung pergi untuk pulang, setibanya di rumah, rania lalu duduk di ruanh tamu, dia tidak masuk kamarnya, ibu nya yang aneh dengan perubahan rania yang sedikit.
“nak,, kamu sangat berbeda..kamu lagi seneng ya..?” tanya ibu nya.
“enggak bu, rani gak apa-apa.. rani cuman pengen aja duduk di sini..”jawab rania.
Rania pun mengambil Hp nya yang ada di dalam tas nya, dia langsung membuka jejaring sosial itu, ternyata pesan nya pun di balas oleh brian.
“ohh iya,, takut nya gua salah.. hhee”
“enggak kak, nama rania cuman satu kok di kampus itu, oya kak bentar ya kak rani mau pindah ke laptop.”
“oke gua tuunggu ya ran.”
“ciie siapa tu kakak rian?” ledek ibunya
“brian ibu, bukan rian, dia senior rani bu d kampus, bu rani mau ke kamar dulu ya..”
Rania pun langsung menuju kamar dan membuka laptopnya, dia langsung membuka jejaring sosial nya itu dan membalas pesan brian.
Rania dan briant pun saling membalas chat, rania sedikit terhibur, rania bercerita pada brian kenapa kelakuan rania saat ketemu brian sangat aneh. Rania juga bercerita kallo rania sudah kehilangan 2 orang yang dia sayangi sekaligus dalam satu tahun.
“ya ampun kamu kasian banget sih ran,, yang tabah yah ran” chat brian yang memberi semangat pada rania.
“iya kak.. udh sabar kok, oya kakak juga katanya mau cerita..”
“iya,, kakak sedih banget ran, coz kakak suka sama cewek eh cewek itu dah punya pacar ran,,”
“ya ampun sabar ya kak, kakak pasti bakal dapet yang lebih kok..”
“oya ran lanjut di sms ja ya,,”
“tapi kak,,, rania gk punya no kakak.”
“hadeuuhh,,, niih,,,, 085*********
“oke ntar rani sms ya kak,,  y udh deh kak rani off duluan ya kak bye J
Rania pun langsung off dan mematikan laptopnya, dia langsung mengambil Hp nya dan mulai mengetik pesan untuk di kirim ke brian.
Rania dan brian pun saling membalas pesan, kini perasaan rania berbeda, dia kini bisa tersenyum meski dia masih merasakan sakit.
“rani,, ada temen-temen mu,,” panggil ibu rania,
“iya bu,, ntar rania keluar.” Sahut rania dari dalam kamar nya.
Rania pun keluar dari kamar nya dan menuju ke ruang tamu, di sana sudah menunggu temen-teman nya yaitu, vania dan devanya.
“e’lo kayak nya seneng banget ran,? E’lo dah bisa move on ya,,? Jangan-jangan gara-gara ketemu ama kak brian ya,,?” ledek vania
“ih apaan sih kalian,,,”jawab rania dengan malu-malu.
Rania dan kedua teman nya itu bermain bersama. Mereka bercanda bersama, dan kali ini rania sangat berbeda, dia sangat bahagia dan wajahnya pun kembali segar tak sekusam saat dia belum bertemu dengan brian.
Tepat pukul 17.30 teman-teman rania pulang, mereka berpamitan kepada ibu rania dan rania. Setelah teman rania pulang, ia kembali ke kamar nya. Saat ini ia sangat bahagia. Dia merasa brian bisa membuat hari-harinya menjadi indah.
Setelah sekian lama rania dan brian kenal, brian menginginkan berkunjung ke rumah rania, rania meminta izin kepada ibu nya agar brian senior nya itu maen ke rumah nya, ibu nya pun mengijinkan nya. Dan brian pun datang ke rumah rania tepat pukul 20.00 hari itu hari minggu malam. Brian dan rania bercanda di ruang tamu. Rania bercerita kepada brian tentang perasaan nya bahwa dia sebelelum bertemu brian, dia sangat sedih, coz dia baru di tinggalkan orang yang di sayangi nya.
Brian pun menghibur rania, begitu pula dengan rania yang menghibur brian karena dia telah gagal mendapatkan wanita yang ia kagumi. Rania dan brian saling menghibur, akhirnya brian pun izi pulang karena hari semakin malam, dia pun pulang.
Keesokan harinya raniia bercerita kepada 2 teman dekatnya, bahwa brian datang berkunjung kerumahnya, dia sangat senang, begitu pula dengan ke 2 temannya yang sudah bisa melihat perubahan pada diri rania yang sudah bisa move on.
Hampir tiga bulan lebih rania dan brian dekat, brian pun sering maen ke rumah rania, dia membawakan makanan favorit rania, rania sangat senang dengan sikap brian yang sangat baik dan perhatian, dia pun mulai mengagumi sosok brian. Dia pun sering cerita kepada teman nya bahwa dia menyukai brian dan berharap brian menjadi pengganti rafa yang sudah tenang di alam sana.
Semua berjalan sangat lancar, tetapi semua nya berubah 180 derajat, dia mendengar bahwa brian mendekati wanita lain yang tak lain teman satu kelas nya sendiri yaitu Nami, dia sangat kaget dengan pembicaraan itu, awalnya rania gak percaya tapi stelah rani menyelidiki nya senidiri itu memang benar, rania sangat terpukul dia menangis sendiri di dalam kelasnya, kedua teman nya pun mengetahui kejadian itu, vania dan devanya pun ikut sedih dengan kejadian itu, ke 2 teman nya menyupirt agar rania tabah
“gua sakit banget,,, gua udh percaya ama dia tapi apa balesannya? Kallo emang dia dulu cuman mau kanal gua doang kenapa dia dudlu ngasih harapan gede sih ke gua..?”ucap rania sedih.
Kedua teman nya hanya tertunduk dan ikut menangis, tiba-tiba rania sesak dan dia pingsan, ke 2 teman nya kaget dan membawa ke ruang kesehatan kampusnya, dia di periksa oleh dokter yang ada di sana, semua teman nya kaget bahwa rania mempunyai penyakit jantung. Vania dan devanya pun memberi tahukan kejadian itu kepada ibunya rania, tapi ibu rania tak kaget kalo dia sudah tau sebelum nya, dia juga menyuruh untuk ke 2 teman nya dan teman yang lain nya menyembunyikan ini semua.
Ketika semuanya mulai membaik rania mulai lagi menjadi seorang pemurung dia gak seceria dulu lagi. Ke dua temannya pun mencoba mencari kebenaran nya itu teryata itu semua benar, vania dan devanya pun tak sangka bahwa cowok setampan dan sebain brian bisa ngelakuin itu.
Hampir 2 bulan kejadian itu berlalu, rania masih bersedih dan dia mencoba menutup pintu hatinya dan dia berjanji untuk fokus kuliah dan menggapai cita-cita nya. Tapi kali ini dia benar-benar sakit, dia melihat nami turun dari mobil brian, kejadian itu ia saksikan langsung dekat. Tapi brian hanya cuek dan memandang sedikit ke arah rania. Rania sangat sakt dengat tak sadar air mata nya terjatuh tiba-tiba ke 2 teman nya menghmpiiri nya, dia pun menceritakan semua nya.
“gua,, gua,, gua sakit banget,,, e’lo bayangin deh org yg penah gua sayang tega nyakitin gua, tadi dia bawa nami,,” sambil menangis tersedu,
“udah sabar-sabar,, cowok kayak dia gak pantes buat cewek sebaik e’lo ran..” ucap vania
“ia ran, banyak yang lebuh dari dia, gua yakin tuh hubungan gak bakal lama ran..” tambah devanya.
Rania terus menangis kedua teman nya pun berusaha menghibur rania, tapi apa boleh dikata hatinya yang sakit susah untuk diajak bercanada.
Dia berfikir kenapa dahualu brian deketin rania dan nagsih harap sama dirinya, kalo cuman ingin berteman gak semestinya sifat brian seperti itu, dia tak habis fikir brian ngelakuin itu semua padanya, dan juga nami, temen deketnya yang pernah dia ajak curhat tega nusuk rania dari belakang, dahulu nami berbicara dia tak akan mencintai brian karena dia sudah mempunyai kekasih, tapi apa yang terjadi nami membohongi pembicaraannya sendiri. Rania sangat terpukul apabila dia mengingat masa-masa bersama brian.
Rania terus menangis di rumah nya, ibu nya tak pernah tahu apa yang terjadi, karena ia tak ingin  ibunya ikut membenci brian. Dia hanya menyimpan semua sakitnya sendiri.
Tepat pukul 19.00 rania sedang mengaji, rania menjerit kesakitan dan memgang dada nya yang sakit dan sesak, ibunya kaget dan menhampiri kamar rania. Ibu rania sangat panik.
“rania... kamu kenapa,, nak,, sadar nak,,”
“rania sakit bu,,, ra ra rani gak kuat bu, sakit banget bu, bu.. ra ran, rani sayang ibu, rani juga sayang brian. Katakan rania sayang dia,,,” tiba-tiba mata rania terpejam
Ibu rania sangat kaget dengan kejadian itu, ibu rania langsung membawa rania ke rmh sakit, dan langsung masuk ke ruang UGD tapi apa yang terjadi tubuh rania langsung di tutup seimut dari bawah sampai atas, ibu rania shock dengan kejadian itu.
“dok kenapa anak saya dok?” tanya ibu rania sambil menangis.
“maaf bu, rania sudah meninggal,,” jawab dokter
Ibu rania kaget dan menangis tersedu-sedu dia tak sangka semua orang yang ia sayangi telah tiada.
Ke esokan harinya pemakaman pun di mulai ibu rania sangat histeris teman-teman rania pun sangat terpukul oleh kejadian itu, teman-teman rania berusaha menenagkan ibunya rania. Brian pun datang ia mendapat kabar dari teman nya. Brian datang dengan wajah menyesal dan sedih, dia datang bersama nami.
“e’lo mau apa datang kesini brian? Puas e’lo dah nyakitin hati rania sampe dia mati?”teriak vania
Brian tidak berkata apa-apa dan menangis di depan pusara makam rania.
“e’lo cowok gak punya hati brian dia dah sayang ama e’lo tapi e’lo ngebalesnya pake kayak gini, air susu e’lo bales air tuba,, dasar cowok php..” tambah vania.
Nami menunjukan muka biasa saja, dia menunjukan muka yang tak peduli dan tak punya salah. Dia terus saja mengajak brian pulang, tapi brian menolaknya dan memarahi nami. Nami pun kesal dan akhirnya pulang sendiri.
Brian terus menangis di atas pusara rania, dia menyesal telah berbuat seperti itu, dia menyesal udah permainin hati rania.
“nih e’lo baca semua,,,”ucap devanya sambil memberikan buku diary nya rania.
Brian sangat kaget dengan semua tulisan berisi tentang dirinya, brian tambah sedih dan menyesal.
“ran,, maafin aq,, aq dah salah,,”sambil menangis.
“alah,, udah lah cowok biadab balik aja sana, samperin tuh cewek e’lo..” teriak vania sambil mendiring brian
Tapi ibu rania menahan nya, dan menyampaikan ucapak terakhir rania, bahwa dia sangat menyayangi brian.
Brian sangat menyesal dia pun meminta maaf pada ibu nya rania dan ke 2 teman nya, awalnya vania tidak mau memaafkan nya tapi karena di bujuk oleh ibu dan devanya akhirnya dia pun mau memaaf kan. Akhir nya brian menyadari kesalahan nya dan  mereka pun memutuskan untuk pulang.

Selamat jalan almarhumah rania, semoga engkau tenang di sisi-NYA, cinta mu tetap abadi bersama dia. Kelak kau akan bahagia disana.

“Brian meski kau telah menyakiti hati q, tapi benci ini tak sebesar cinta q, semoga kau bahagia dengan pilihan hati mu, miss u.”

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar