UNTUK MU
Siang itu Rania sedang
duduk di teras depan, ia duduk di bangku malas nya sambil memegang buku diary
nya, dan air mata yang mengalir di mata nya yang indah sangat deras, hidung nya
yang putih dan mancung berubah menjadi warna ke merah mudaan. Ia baru saja
kehilangan orang yang benar-benar ia sayangi, Rafa orang yanag hampir 1 tahun
menemani nya kini pergi meninggalkan nya dan takkan kembali lagi untuk
selamanya.
“rafa,, kamu kok tega
ninggalin aku,,, kamu kan dah janji gak bakal tinggalin aku..” tangis rania.
“nak udh jangan
nangis.. ibu tahu kamu sangat terpukul,,,” sahut ibu nya sambil memeluk rania.
“tapi bu,,, rani
bener-bener sayang sama dia bu,, ..” jawab rania sambil terus menangis.
“udah udah,,, sekarang
kamu shalat nak, doa kan rafa biar dia disana tenang dan hati mu tenang nak.,,”
saran ibunya.
“..............”
Rania tidak menjawab
nya lagi, tapi dia langsung masuk ke dalam rumahnya dan masuk ke kamar nya, ia
shalat dan mengaji.
KE ESOKAN HARINYA
Tepat pukul 04.30 rania
bangun dan langsung mandi dan bersia-siap untuk berangkat kuliah. Pukul 06.00
rania keluar dari kamar nya dan langsung menuju ruang makan. Ia duduk di kursi
makan tanpa memakan sarapan yang sudah di sediakan ibunya itu.
“nak sarapan dulu,
jangan di liatin aja ntar gak enak roti sama susunya” perintah ibunnya.
“.............”
Rania tidak menjawab,
dia langsung saja memakan rotinya. Matanya yan agak bengkak mengisyaratkan
selama semalaman ia menangis. Rania tidak menghabiskan sarapan nya itu. Ia
langsung meminum susu dan berpamitan kapada ibunya.
“sabar sayang.. kamu
pasti bakal dapetin yang lebih...” bisik ibunya ketika rania sudah berjalan
jauh.
Setibanya di kampus,
rania tidak seceria biasanya, dia menunjukkan muka yang sangat sedih. Ketika
sedang berjalan menuju ruang kelas nya ia terhenti sejenak di dekat lapang
basket. Ia membayangkan ada rafa disana yang setiap pagi berlatih basket di
lapang. Mata rania pun berkaca-kaca dan air matanya pun mengalir. Dia sangat
terpukul atas kepergian rafa.
“rania,,, sabar ya..
gua tau e’lo pasti sakit banget...” sahut vania temen dekat nya.
“iya ran, e’lo harus
tabah ya,, e’lo jangan nangis, kallo e’lo nangis rafa pasti ikut sedih...”
tambah devanya.
“iya...”jawab singkat
rania.
“udah lah sekarang kita
masuk kelas aja ya,, bentar lagi pak
suryo masuk...” ajak ke dua temen deketnya itu.
Akhirnya rania pun
beranjak dari tempatnya dan masuk ke ruang kelas nya, di dalam kelas semua
temen nya ikut berduka dan memberi suport pada rania.
Hari-hari rania kini
sangat hampa tanpa kehadiran rafa, dia tak seceria dahulu saat ada rafa di
dekat nya, kini dia menjadi seorang yang sangat pendiam, dia kini tidak banyak
bicara dia hanya melamun dan melamun dan menatap terus foto rafa dan dirinya.
Di rumahnya pun dia tak
banyak bicara, setiap dia pulang ke rumah dia langsung masuk kamarnya dia selau
mengurung dirinya, hingga suatu hari ibunya menemui rania pingsan di kamar
mandi, ibu rania membawa rania ke rumah sakit.
“dok,,, anak saya
kenapa dok..?” tanya khawatir ibu rania.
“dia gak apa-apa bu,
dia hanya kecapean atau mungkin terlalu banyak fikiran bu,” jelas dokter pada
ibu rania
“ouh ya udah kallo gitu
makasih ya dok,,,” sambil bersalaman.
Ibu rania pun menuju
ruang rania, ibu rania pun membawa rania pulang ke rumah dan menyuruh rania
beristirahat agar kedaannya semakin membaik.
“bu,, rani pengen
ketemu rafa bu...”
“asstagfirullah nak,,
rafa sudah tenang di alam sana, kamu jangan bicara kayak gitu, nanti dia malah
gak tenang.”
“iya deh bu,, bu papah
juga mungkin tenang ya di alam sana...” tiba-tiba rania menangis.
Ibu rania tidak
menjawab ibu ranai pun ikut menangis dan memeluk rania.
“nak papah mu insya
allah sudah berada di alam yang sangat indah,, papah mu orang baik nak..”
sambil menangis.
Ibu dan anak itu
saling berpelukan dan menangis, karena orang yang sama-sama ia sayangi telah
pergi untuk selamanya.
|
Malam...
sepi tanpa bintang
Gelap
tanpa bulan, yang ada hanya suara angin malam yang berhembus,
Dingin nya
malam, mungkin dapat mengisyartakan dingin nya juga hati ini,
Daun yang
melambai lembut kepadaku seolah mengerti keadaan q saat ini,
Mereka ,
orang yag q sayang, kini telah tenang disana,
Tuhan,,
jaga mereka, karena aq sayang mereka
Rani
|
Rania menulis sebuah puisi untuk mencurahkan isi
hatinya saat ini. Dia memang sangat senang menulis puisi.
3 bulan berlalu dari meninggal nya rafa, rania masih
tetap tidak bersemangat, ia masih tetap dalam pada kesedihan nya.
“rafa,, udah mau hari ke 100 e’lo gua masih belum
bisa lupain e’lo fa,” ucap rania pada fot rafa yang masih ia simpan di
dompetnya.
“udah dong ran, e’lo harus move on, e’lo pasti bisa
lupain dia mesti gua tau itu berat.” Ucap devanya.
“iya ran, e’lo tuh harus bisa ran,” tambah vania.
“hey,, e’lo tuh gak bakal pernah tau perasaan gua,
karena e’lo berdua belum pernah ngalamin keadaan kayak gua..” marah rania.
“iya maaf ran gua tau, tapi e’lo gk bisa kayak gini
terus,,” sambut vania.
Tapi rania malah pergi keluar ruangan kelas nya dan
menuju kamar mandi. Rania yang tidak tau kalo lantai kamar mandi itu basah
tiba-tiba rania terpeleset, tapi ada yang menahan nya.
“makasi ya,,” ucap rania.
“iya sama-sama..”jawab seorang pria yang
menolong nya.
Rania menatapa
pria itu, ia seperti mengenali wajah pria itu, ia begitu kaget, wajahnya pria
tadi hampir mirip dengan rafa.
“rafa,,, e’lo hidup lagi..” teriak rania sambil
memeluk pria itu.
“hah,, maaf gua bukan rafa gua brian,,” jawab pria
itu.
“oh maaf ya,, “sambil melapaskan pelukan nya.
“iya gpp..” sambil mengajak rania jalan dan duduk di
bangku dekat ruang lab.
Rania hanya melamun dan menangis kecil, brian yang
ada di sampingnya merasa aneh dengan sifat rania.
“hey.,, kenpa e’lo nangis?” tanya brian
“...........” rania hanya terdiam dan terus
menangis.
“maafin gua deh kallo gua dah ganggu e’lo..”
“ehh,, e,,eng gak kok..” jawab rania sambil terbata
bata akibat menangis.
“oya.. gua brian anak kelas seni.. e’lo?”
“ouh kamu senior aq ya,,?” Tanya rania..
“iya,,, eh e’lo siiapa?”
“aq rania, panggil aq aja rani,, “ jawab rania.
“ouh,, ya udah gua ke kelas dulu ya ada jadwal
kuliah ni..”
“iya kak..”
Brian pun meninggalkan rania sendiri, dia duduk
termenung, kini hati rania sudah agak mendingan, ia merasa aneh ketika dia
melihat brian pertama kali dia langsung merasa nyaman.
Rania pun pergi dari tempat itu untuk menuju ruang
kelas nya. Dia masih merasa aneh dengan perasaan nya itu.
“rania e’lo dari mana?” tanya vania dan devanya
“gu.. gu gua,, da da...” jawab rani yan terbata-bata
dan terpotong pembicaraan nya oleh vania.
“dari man e’lo..? kok e’lo ngomong nya gagap gitu
sihh..?” tanya devanya
“iihh gua dari kamar mandi,, gua tadi ketemu kak
brian,, gu baru nyadar dia hampir mirip kayak rafa...”
“hahhhh... kak brian..? senior kita?” kaget vania
dan devanya.
Rania hanya menganggut dan wajah nya kini agak
sedikit berbeda, dia sedikit bahagia. Rania, devanya dan vania pun pulang
karena jam kuliah sudah habis.
“ran.. mau ikut kita-kita gak nonton...? tanya
devanya
“ah,, enggak ah makasi dev, mau langsung pulang,
kepala agak sakit nih,,” jawab rania lembut.
“oh ya udh gua sama vania berangkat ya,,, ati-ati
ya,, byyee...”
Rania hanya tersenyum dan melambaikan tangan nya
pada devanya dan vania, dia langsung berjalan ke arah luar gerrbang kampus, dia
terus berjalan dia membayangkan wajah brian seniornya tadi yang mirip dengan
rafa, dia berfikiran kallo brian kakak nya rafa, tapi tidak mungkin, rafa hanay
anak satu-satunya.
Raffa,,, gua kangen e’lo dan maen di taman ini.. gumam hati rania yang berhenti di taman tempat ia
sering bermain bersama raffa,. Dia duduk di bawah pohon yang rindang, dia
membayangkan saat-saat terakhir kali bersama raffa di taman itu, dari matanya
kini telah turun air mata yang sangat banyak, dia sangat terpukul bila
mengingat massa nya itu.
Ketika rania sedang menagis tiba-tiba Hp nya
bergetar, dia melihat Hp nya di sana ada pesan masuk yang melalui jejaring
sosial fb.
“rani,, ini
rania kan?”
Rania aneh, dia tidak mengenal namanya, dia pun
melihat profilnya, ketika di lihat ternyat brian, raniapun sedikit terhibur,
dia memberi senyuman kecil bahagia. Rania pun membalas pesan itu.
“iya kak, ini
rani”
Rania pun lalu berdiri dari tempat duduknya itu,
rania langsung pergi untuk pulang, setibanya di rumah, rania lalu duduk di
ruanh tamu, dia tidak masuk kamarnya, ibu nya yang aneh dengan perubahan rania
yang sedikit.
“nak,, kamu sangat berbeda..kamu lagi seneng ya..?”
tanya ibu nya.
“enggak bu, rani gak apa-apa.. rani cuman pengen aja
duduk di sini..”jawab rania.
Rania pun mengambil Hp nya yang ada di dalam tas
nya, dia langsung membuka jejaring sosial itu, ternyata pesan nya pun di balas
oleh brian.
“ohh iya,, takut
nya gua salah.. hhee”
“enggak kak,
nama rania cuman satu kok di kampus itu, oya kak bentar ya kak rani mau pindah
ke laptop.”
“oke gua tuunggu
ya ran.”
“ciie siapa tu kakak rian?” ledek ibunya
“brian ibu, bukan rian, dia senior rani bu d kampus,
bu rani mau ke kamar dulu ya..”
Rania pun langsung menuju kamar dan membuka
laptopnya, dia langsung membuka jejaring sosial nya itu dan membalas pesan
brian.
Rania dan briant pun saling membalas chat, rania
sedikit terhibur, rania bercerita pada brian kenapa kelakuan rania saat ketemu
brian sangat aneh. Rania juga bercerita kallo rania sudah kehilangan 2 orang
yang dia sayangi sekaligus dalam satu tahun.
“ya ampun kamu
kasian banget sih ran,, yang tabah yah ran” chat
brian yang memberi semangat pada rania.
“iya kak.. udh
sabar kok, oya kakak juga katanya mau cerita..”
“iya,, kakak
sedih banget ran, coz kakak suka sama cewek eh cewek itu dah punya pacar ran,,”
“ya ampun sabar
ya kak, kakak pasti bakal dapet yang lebih kok..”
“oya ran lanjut
di sms ja ya,,”
“tapi kak,,,
rania gk punya no kakak.”
“hadeuuhh,,,
niih,,,, 085*********
“oke ntar rani
sms ya kak,, y udh deh kak rani off
duluan ya kak bye J”
Rania pun langsung off dan mematikan laptopnya, dia
langsung mengambil Hp nya dan mulai mengetik pesan untuk di kirim ke brian.
Rania dan brian pun saling membalas pesan, kini
perasaan rania berbeda, dia kini bisa tersenyum meski dia masih merasakan
sakit.
“rani,, ada temen-temen mu,,” panggil ibu rania,
“iya bu,, ntar rania keluar.” Sahut rania dari dalam
kamar nya.
Rania pun keluar dari kamar nya dan menuju ke ruang
tamu, di sana sudah menunggu temen-teman nya yaitu, vania dan devanya.
“e’lo kayak nya seneng banget ran,? E’lo dah bisa
move on ya,,? Jangan-jangan gara-gara ketemu ama kak brian ya,,?” ledek vania
“ih apaan sih kalian,,,”jawab rania dengan
malu-malu.
Rania dan kedua teman nya itu bermain bersama.
Mereka bercanda bersama, dan kali ini rania sangat berbeda, dia sangat bahagia
dan wajahnya pun kembali segar tak sekusam saat dia belum bertemu dengan brian.
Tepat pukul 17.30 teman-teman rania pulang, mereka
berpamitan kepada ibu rania dan rania. Setelah teman rania pulang, ia kembali
ke kamar nya. Saat ini ia sangat bahagia. Dia merasa brian bisa membuat
hari-harinya menjadi indah.
Setelah sekian lama rania dan brian kenal, brian
menginginkan berkunjung ke rumah rania, rania meminta izin kepada ibu nya agar
brian senior nya itu maen ke rumah nya, ibu nya pun mengijinkan nya. Dan brian
pun datang ke rumah rania tepat pukul 20.00 hari itu hari minggu malam. Brian
dan rania bercanda di ruang tamu. Rania bercerita kepada brian tentang perasaan
nya bahwa dia sebelelum bertemu brian, dia sangat sedih, coz dia baru di
tinggalkan orang yang di sayangi nya.
Brian pun menghibur rania, begitu pula dengan rania
yang menghibur brian karena dia telah gagal mendapatkan wanita yang ia kagumi.
Rania dan brian saling menghibur, akhirnya brian pun izi pulang karena hari
semakin malam, dia pun pulang.
Keesokan harinya raniia bercerita kepada 2 teman
dekatnya, bahwa brian datang berkunjung kerumahnya, dia sangat senang, begitu
pula dengan ke 2 temannya yang sudah bisa melihat perubahan pada diri rania
yang sudah bisa move on.
Hampir tiga bulan lebih rania dan brian dekat, brian
pun sering maen ke rumah rania, dia membawakan makanan favorit rania, rania
sangat senang dengan sikap brian yang sangat baik dan perhatian, dia pun mulai
mengagumi sosok brian. Dia pun sering cerita kepada teman nya bahwa dia
menyukai brian dan berharap brian menjadi pengganti rafa yang sudah tenang di
alam sana.
Semua berjalan sangat lancar, tetapi semua nya
berubah 180 derajat, dia mendengar bahwa brian mendekati wanita lain yang tak
lain teman satu kelas nya sendiri yaitu Nami, dia sangat kaget dengan
pembicaraan itu, awalnya rania gak percaya tapi stelah rani menyelidiki nya
senidiri itu memang benar, rania sangat terpukul dia menangis sendiri di dalam
kelasnya, kedua teman nya pun mengetahui kejadian itu, vania dan devanya pun
ikut sedih dengan kejadian itu, ke 2 teman nya menyupirt agar rania tabah
“gua sakit banget,,, gua udh percaya ama dia tapi
apa balesannya? Kallo emang dia dulu cuman mau kanal gua doang kenapa dia dudlu
ngasih harapan gede sih ke gua..?”ucap rania sedih.
Kedua teman nya hanya tertunduk dan ikut menangis,
tiba-tiba rania sesak dan dia pingsan, ke 2 teman nya kaget dan membawa ke
ruang kesehatan kampusnya, dia di periksa oleh dokter yang ada di sana, semua
teman nya kaget bahwa rania mempunyai penyakit jantung. Vania dan devanya pun
memberi tahukan kejadian itu kepada ibunya rania, tapi ibu rania tak kaget kalo
dia sudah tau sebelum nya, dia juga menyuruh untuk ke 2 teman nya dan teman
yang lain nya menyembunyikan ini semua.
Ketika semuanya mulai membaik rania mulai lagi
menjadi seorang pemurung dia gak seceria dulu lagi. Ke dua temannya pun mencoba
mencari kebenaran nya itu teryata itu semua benar, vania dan devanya pun tak
sangka bahwa cowok setampan dan sebain brian bisa ngelakuin itu.
Hampir 2 bulan kejadian itu berlalu, rania masih
bersedih dan dia mencoba menutup pintu hatinya dan dia berjanji untuk fokus
kuliah dan menggapai cita-cita nya. Tapi kali ini dia benar-benar sakit, dia
melihat nami turun dari mobil brian, kejadian itu ia saksikan langsung dekat.
Tapi brian hanya cuek dan memandang sedikit ke arah rania. Rania sangat sakt
dengat tak sadar air mata nya terjatuh tiba-tiba ke 2 teman nya menghmpiiri
nya, dia pun menceritakan semua nya.
“gua,, gua,, gua sakit banget,,, e’lo bayangin deh
org yg penah gua sayang tega nyakitin gua, tadi dia bawa nami,,” sambil
menangis tersedu,
“udah sabar-sabar,, cowok kayak dia gak pantes buat
cewek sebaik e’lo ran..” ucap vania
“ia ran, banyak yang lebuh dari dia, gua yakin tuh
hubungan gak bakal lama ran..” tambah devanya.
Rania terus menangis kedua teman nya pun berusaha
menghibur rania, tapi apa boleh dikata hatinya yang sakit susah untuk diajak
bercanada.
Dia berfikir kenapa dahualu brian deketin rania dan
nagsih harap sama dirinya, kalo cuman ingin berteman gak semestinya sifat brian
seperti itu, dia tak habis fikir brian ngelakuin itu semua padanya, dan juga
nami, temen deketnya yang pernah dia ajak curhat tega nusuk rania dari belakang,
dahulu nami berbicara dia tak akan mencintai brian karena dia sudah mempunyai
kekasih, tapi apa yang terjadi nami membohongi pembicaraannya sendiri. Rania
sangat terpukul apabila dia mengingat masa-masa bersama brian.
Rania terus menangis di rumah nya, ibu nya tak
pernah tahu apa yang terjadi, karena ia tak ingin ibunya ikut membenci brian. Dia hanya
menyimpan semua sakitnya sendiri.
Tepat pukul 19.00 rania sedang mengaji, rania
menjerit kesakitan dan memgang dada nya yang sakit dan sesak, ibunya kaget dan
menhampiri kamar rania. Ibu rania sangat panik.
“rania... kamu kenapa,, nak,, sadar nak,,”
“rania sakit bu,,, ra ra rani gak kuat bu, sakit
banget bu, bu.. ra ran, rani sayang ibu, rani juga sayang brian. Katakan rania
sayang dia,,,” tiba-tiba mata rania terpejam
Ibu rania sangat kaget dengan kejadian itu, ibu
rania langsung membawa rania ke rmh sakit, dan langsung masuk ke ruang UGD tapi
apa yang terjadi tubuh rania langsung di tutup seimut dari bawah sampai atas,
ibu rania shock dengan kejadian itu.
“dok kenapa anak saya dok?” tanya ibu rania sambil
menangis.
“maaf bu, rania sudah meninggal,,” jawab dokter
Ibu rania kaget dan menangis tersedu-sedu dia tak
sangka semua orang yang ia sayangi telah tiada.
Ke esokan harinya pemakaman pun di mulai ibu rania
sangat histeris teman-teman rania pun sangat terpukul oleh kejadian itu,
teman-teman rania berusaha menenagkan ibunya rania. Brian pun datang ia
mendapat kabar dari teman nya. Brian datang dengan wajah menyesal dan sedih,
dia datang bersama nami.
“e’lo mau apa datang kesini brian? Puas e’lo dah
nyakitin hati rania sampe dia mati?”teriak vania
Brian tidak berkata apa-apa dan menangis di depan
pusara makam rania.
“e’lo cowok gak punya hati brian dia dah sayang ama
e’lo tapi e’lo ngebalesnya pake kayak gini, air susu e’lo bales air tuba,,
dasar cowok php..” tambah vania.
Nami menunjukan muka biasa saja, dia menunjukan muka
yang tak peduli dan tak punya salah. Dia terus saja mengajak brian pulang, tapi
brian menolaknya dan memarahi nami. Nami pun kesal dan akhirnya pulang sendiri.
Brian terus menangis di atas pusara rania, dia
menyesal telah berbuat seperti itu, dia menyesal udah permainin hati rania.
“nih e’lo baca semua,,,”ucap devanya sambil
memberikan buku diary nya rania.
Brian sangat kaget dengan semua tulisan berisi
tentang dirinya, brian tambah sedih dan menyesal.
“ran,, maafin aq,, aq dah salah,,”sambil menangis.
“alah,, udah lah cowok biadab balik aja sana,
samperin tuh cewek e’lo..” teriak vania sambil mendiring brian
Tapi ibu rania menahan nya, dan menyampaikan ucapak
terakhir rania, bahwa dia sangat menyayangi brian.
Brian sangat menyesal dia pun meminta maaf pada ibu
nya rania dan ke 2 teman nya, awalnya vania tidak mau memaafkan nya tapi karena
di bujuk oleh ibu dan devanya akhirnya dia pun mau memaaf kan. Akhir nya brian
menyadari kesalahan nya dan mereka pun
memutuskan untuk pulang.
Selamat jalan
almarhumah rania, semoga engkau tenang di sisi-NYA, cinta mu tetap abadi
bersama dia. Kelak kau akan bahagia disana.
“Brian meski kau
telah menyakiti hati q, tapi benci ini tak sebesar cinta q, semoga kau bahagia
dengan pilihan hati mu, miss u.”
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar