17 Dream
|
A
|
ww... pegal sekali badan ini. Pusing sekali
kepala ini. Hanya rasa sakit yang terasa di tubuh ini. Tapi semua rasa sakit
itu menghilang seketika ketika aku melihat keadaan di sekitarku. Sangat
membingungkan. Di sekelilingku hanya terdapat pohon-pohon yang menjulang tinggi
dan yang terdengar hanyalah suara kicauan burung dan riakan semak belukar yang
diterpa angin. Sebuah tempat yang sangat tidak kukenali. Tapi kupikir ini
hanyalah perasaanku saja karena rasa pusing yang terus menyerang kepala ini.
Ternyata bukan, semua ini bukanlah ilusi. Aku
sangat yakin kalau aku sedang berada di sebuah hutan. Tapi bagaimana bisa? Aku
ini adalah orang yang sangat anti dengan alam dan aku sama sekali tidak pernah
ingat bahwa aku ingin atau berniat pergi ke tempat seperti ini. Apalagi tanpa
membawa bekal apapun dan mengenakan pakaian yang sangat tak lazim untuk dipakai
menjelajah. Hanya ada sebuah handphone dan jam tangan kesayangan yang ada.
Aku terus berjalan menyusuri seramnya hutan
untuk mencari sumber air terdekat. Haus dan lapar sudah tidak bisa tertahankan
lagi. Ya meskipun dengan sangat terpaksa tapi ini lebih baik daripada aku mati
konyol di sini. Akhirnya kutemukan sebuah sungai dan mata air yang mengalir
dengan indahnya. Tanpa pikir panjang aku pun langsung meminumnya dan juga
mencuci muka agar pikiran menjadi lebih fresh.
Setelah pikiran menjadi fresh kembali, aku
mencoba mengecek lokasi di mana aku berada dengan GPS. Tapi sungguh
mengejutkan, GPS-ku tidak bisa menyebutkan dan melacak keberadaanku. Kok bisa?
Apa GPS-ku rusak? Atau aku sedang berada di tempat terlarang yang tidak
terjangkau GPS? Setelah aku cek, tidak ada masalah sama sekali dengan GPS-nya.
Pulsa mencukupi, sinyal penuh, tapi kenapa lokasiku tidak terlacak? Atau aku
sebenarnya sedang berada di negeri dongeng? Duh pikiranku makin ngawur saja.
Aku tidak kehabisan akal, kucoba menghubungi
orang tua, teman, dan saudara. Yups teleponnya nyambung dan mereka angkat,
tapi... tidak terdengar suara apapun. Hanya hening yang ada. Kucoba membuka
situs jejaring sosial, tapi anehnya tidak ada satu pun situs yang bisa dibuka.
Duh kacau nih. Aku termasuk orang yang gaptek akan masalah internet jadi aku
tidak bisa melacak masalahnya lebih lanjut. Hanya kata “aneh” yang ada di
kepala ini.
***_____***
Daripada bingung, aku teruskan aja perjalanan
tidak pasti ini. Aku akan terus berjalan lurus dan jika terus berjalan lurus
pasti aku akan menemukan jalan keluar. Hutan ini terlalu menakutkan untuk orang
sepenakut aku. Terlebih lagi jika ada binatang buas yang tiba-tiba menyerang.
Ah... sudah-sudah jangan berpikir yang enggak-enggak. Positive thinking.
Huuaa.... mencari jalan keluar tidak semudah
yang aku pikirkan. Aku sudah mulai muak dengan hal ini. Aku mulai mengeluh dan
marah-marah sendiri sampai-sampai aku menabrak sebuah pohon saking sudah
‘puyengnya’ kepala ini. Spontan aku tiba-tiba marah-marah pada pohon itu
seperti orang gila. Tiba-tiba terdengar suara raungan harimau. Aku terdiam
sejenak kemudian kembali marah-marah dengan memukul-mukul pohon itu. Suara
raungan harimau pun kembali terdengar dan lebih keras dan lebih lama
seolah-olah dia tidak suka dengan apa yang kulakukan. Aku berhenti marah-marah
dan karena takut, tanpa pikir panjang aku langsung berlari menjauh dari pohon
itu.
Tanpa disangka dan diduga, ketika berlari-lari
aku tiba-tiba sampai di sebuah gubuk. Sejenak aku melihat gubuk kecil itu.
Setelah kupikir aman, aku langsung memasuki gubuk itu. Pintunya tidak dikunci.
Di dalamnya terdapat sebuah ruang makan, kamar, dan dapur. Mungkin di gubuk ini
ada penghuninya. Tapi karena rasa lapar semakin menjadi-jadi, aku langsung
memakan makanan yang ada dapur. Ya meskipun tidak semewah makananku
sehari-hari, tapi mau bagaimana lagi, daripada aku mati kelaparan di hutan aneh
ini.
Ahh... lega perut ini sudah kenyang. Kini rasa
kantuk yang melanda karena lelah setelah berlari-lari di hutan aneh ini. Aku
pun langsung pergi ke kamar. Busyet... kamarnya Berantakan sekali. Pikiranku
langsung tertuju pada satu kata yaitu “lelaki”. Kamar siapa lagi yang Berantakan
dan bau begini, pasti kamar laki-laki. Aku paling benci sama yang namanya
lelaki. Bagiku semua lelaki di dunia ini sama saja. Bisanya cuma bermain-main
dengan wanita. Aku pikir dengan sedikit membereskan kamar ini, aku akan
menghilangkan bau lelaki yang ada di kamar ini. Rasa kantuk kutekan sejenak
untuk mengubah aroma kamar ini. Setelah itu aku tidur.
***_____***
Prutt.... tidurku yang nyenyak tiba-tiba
menghilang karena ada seseorang menyiramku. Setelah kulihat, ternyata dia
adalah laki-laki.
Keyla : Aww... kenapa kau menyiramku,
laki-laki?
Ray : Kenapa? Seharusnya aku yang bertanya,
siapa kau dan kenapa kau masuk istana orang sembarangan?
Keyla : Hah... istana? Gubuk kecil ini kamu
bilang istana?
Ray : Gak usah ngalihin pembicaraan. Sekarang
jawab aku. Siapa kamu dan mau apa kamu ke sini?
Keyla : Oke... aku akan jawab. Tunggu
sebentar!
Aku kemudian bangun dari tempat tidur kemudian
berjalan menuju ruang makan sambil mendongakkan kepala. Aku kemudian berduduk
santai di sebuah kursi panjang pada ruang makan itu.
Ray : Mengapa kau malah diam di sana? Cepat
jawab pertanyaanku.!!!
Keyla : Jangan membentakku seperti itu. Namaku
Keyla. Aku sedang tersesat di hutan ini. Aku tidak tahu tiba-tiba ada di sini.
Hutan ini juga sangat aneh. Sebenarnya di mana ini? Apa kau tahu jalan keluar
dari sini?
Ray : Di sini adalah Jakarta. Tidak ada jalan
keluar dari hutan ini.
Keyla : Jakarta? Jangan bercanda! Jakarta itu
bukan hutan, melainkan perkotaan yang banyak gedung tingginya.
Ray : Terserah kau mau percaya atau tidak.
..... diam sejenak .....
Keyla : Apa benar-benar tidak ada jalan keluar
dari hutan ini?
Ray : Ya, begitu lah.
Keyla : Terus kalau aku mau pulang gimana?
Ray : Entahlah.
Keyla : Jawaban macam apa itu? Apa kau itu
tidak punya perasaan, dasar laki-laki!!?
Ray : Kalau tidak tahu ya mau gimana lagi??
Kemudian teman satu gubuk Ray yaitu Joni kembali
dengan membawa buah-buahan dan daging mentah hasil berburu di hutan.
Joni : Aku pulang. Heh..?? siapa wanita ini,
Ray?
Keyla : Ray?? Mengapa laki-laki primitif
seperti kalian memiliki nama yang bagus?
Ray : Dia itu penyusup, Joni.
Keyla : Sudah kubilang aku ini tersesat, masih
dibilang penyusup. Dasar laki-laki tak punya perasaan!!
Joni : Tersesat? Oh begitu.
Keyla : Lagi-lagi jawaban aneh. Hutan ini sama
penghuninya sama saja. Umm... tunggu dulu, sepertinya... (pembicaraannya
dipotong Ray)
Ray : Udah deh... kamu kan lagi tersesat, tapi
meskipun kita dari kecil tinggal di sini. Tapi kita benar-benar gak tahu jalan
keluar dari hutan ini. Kalau ingin mencari jalannya sendiri, silahkan. Tapi kita
gak bisa bantu. Kita punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Keyla : Oke deh.
Dengan rasa kesal pun aku akhirnya keluar dari
gubuk para lelaki itu. Tapi ada yang membuatku bingung. Aku merasa pernah melihat
mereka tapi entah di mana. Aku mencoba mengeceknya di HP-ku. Tapi ternyata
tidak ada satu pun foto mereka. Ah mungkin ini hanya perasaanku saja.
Sementara di gubuk, Ray dan Joni melakukan
rutinitas mereka seperti biasa yaitu mencari makanan di hutan, memasak, makan,
dan beres-beres.
***_____***
Menakutkan... hutan ini terlalu menakutkan
untuk orang manja seperti ku. Aku memutuskan untuk kembali lagi ke gubuk Ray. Tentu
ketika aku ke sana mereka tidak langsung menerimaku begitu saja.
Ray akhirnya menerimaku ke ‘rumah kecilnya’. Kali
ini aku sedikit memperbaiki sikapku meskipun sebenarnya terpaksa. Aku membantu
para laki-laki itu membereskan rumah mereka. Mau bagaimana lagi, sekarang
inilah satu-satunya cara agar aku bisa selamat dari teror hutan ini.
Hari sudah mulai sore. Aku memutuskan untuk membuka
HP dan ingin mengubur kebosananku.
Tapi... aku menemukan hal yang sangat aneh melebihi keanehan hutan ini. Waktu
berjalan mundur. Tadi saat aku sedang di hutan, waktu menunjukkan jam 10.30,
tapi kenapa sekarang waktu menunjukkan pukul 8 pagi? Aku mencoba bertanya pada
Ray dan Joni, tapi jawaban mereka lebih mengejutkan, “Aku tidak tahu. Aku
terbiasa menjalani waktu seperti ini.”... Hah..??? kurasa aku sedang berada di
dalam sebuah dongeng.
***_____***
Satu hari telah berlalu. Aku melakukan sesuatu
yang fatal dan tidak seharusnya kulakukan. Ketika aku membereskan kamar Ray,
aku tidak sengaja memecahkan barang kesayangannya. Ray tidak mengerti meskipun
aku bilang berkali-kali kalau aku ini tidak sengaja melakukannya. Ya... seperti
yang kuperkirakan. Ray dan Joni melakukan sesuatu yang mengerikan padaku. Dengan
alasan agar aku tidak mengganggu mereka lagi, aku diikat di sebuah pohon di
tengah hutan. Kejam sekali. Begini kah sebenarnya sifat laki-laki? Aku mencoba
berteriak-teriak. Tapi apa guna? Tidak akan ada yang menolongku di hutan menyeramkan
ini. Aku kelelahan. Aku akhirnya ketiduran dalam keadaan terikat.
Huuaaahh.... aku terbangun di sebuah kasur.
Aku terkejut melihat sesosok wanita membawa pisau. Pikiranku langsung tertuju
pada pembunuh berdarah dingin. Sontak aku langsung lompat ke pojok kasur.
Ternyata aku salah. Setelah mendengar penjelasannya, ternyata dia adalah orang
yang menolongku saat diikat oleh Ray dan Joni. Aku mendengar penjelasan mereka.
Kami saling curhat satu sama lain. Ternyata sungguh kelam kehidupan mereka.
Mereka lebih memilih tinggal di hutan seram ini daripada hidup di rumah mewah
bersama keluarga mereka. Sekali lagi aku merasa pernah melihat mereka berdua.
Tapi kupikir ini hanyalah perasaanku belaka.
Namanya Kalifa. Orang tuanya sangat
materialistis. Bagi mereka, uang dan harta adalah segalanya. Kalifa kabur
karena mendengar bahwa orang tuanya berniat menjual dia pada salah satu
keluarga bangsawan demi mendapatkan harta. Huummppphh.... kupikir aku harus
bersyukur dengan kehidupanku sekarang.
Yang satunya lagi namanya Lisa. Dia merupakan
teman Kalifa. Sama-sama keluarga dari orang kaya. Dia orangnya ingin kebebasan
dan tidak ingin terikat aturan. Orang tuanya selalu mengatur dan menentukan apa
pun mengenai Lisa dengan alasan itulah yang terbaik baginya. Padahal keinginannya
tidak semuanya sama dengan yang diinginkan orang tuanya. Dia memutuskan untuk
kabur bersama Kalifa. Hummphh... aku harus bersyukur lagi.
Aku bertanya apakah mereka tahu cara keluar
dari hutan ini karena mereka semua tidak berasal dari hutan ini. Tapi mereka
menjawab bahwa mereka tidak tahu jalan keluar dari hutan sini dan tidak mau
tahu jalan keluar dari hutan sini. Mereka secara kebetulan kabur ke hutan ini.
Huh... susahnya mencari informasi ini.
Kini giliran mereka yang bertanya padaku. Aku
hanya bercerita bahwa aku ini tersesat dan bertemu dua orang kejam. Aku hanya
bilang bahwa aku itu membenci laki-laki. Kalifa bertanya padaku alasannya. Tapi
aku tidak menjawab banyak. Dia akhirnya mengingatkanku agar tidak harus
membenci orang atas hal seperti itu. Dia bilang tidak semua laki-laki seperti
itu. Dia memberikanku seorang contoh yang membuatku tersadar atas kebodohanku
ini. Dia mengingatkanku akan banyaknya laki-laki di dunia ini yang telah
berprestasi dan menjadi pahlawan bahkan untuk kaum perempuan. Akhirnya berkat
sarannya, aku memutuskan untuk meminta maaf pada Ray dan Joni besok.
***_____***
Hari mulai pagi. Aku berencana membuat kejutan
untuk Ray dan Joni. Ketika hari sudah agak siang. Aku pergi ‘menyusup’ ke rumah
kecil Ray. Aku menyulap rumahnya menjadi sedemikian rupa dan aku juga
menyiapkan makanan yang enak untuk dia. Tentunya dengan bantuan dua temanku,
yakni Kalifa dan Lisa.
Jrenk... ketika mereka datang dengan membawa
hasil hutan seperti biasa, seperti yang kuduga mereka terlihat senang dan berbinar-binar
melihat kejutan dariku. Akhirnya aku menunjukkan diriku dan aku meminta maaf pada
mereka. Ray tidak memaafkanku begitu saja. Mungkin karena teringat dengan
barang yang kupecahkan itu. Jreng.... inilah sebenarnya kejutan dari ku. Aku
memperbaiki barangnya sedemikian rupa sehingga terlihat seperti utuh kembali.
Ray diam sejenak sambil menundukkan kepala. Tapi kemudian tiba-tiba dia berwajah
senang dan ingin merangkulku. Sontak aku langsung menendangnya. Argghh...
sifatnya masih saja menyebalkan. Kalifa dan Lisa kemudian menunjukkan diri
mereka pada Ray dan Joni. Tidak kusangka ternyata mereka telah kenal
sebelumnya. Meskipun sudah hampir 6 bulan tidak bertemu lagi.
Hari ini, kami berlima melakukan tukar cawan
sebagai tanda persahabatan. Sebagai simbolisasi, kami juga mengikatkan pita
pada lengan kiri kami. Mulai hari ini, kami berlima menjadi sahabat dan
menjalani hari-hari dengan penuh ceria. Hutan mengerikan ini berubah menjadi
hutan keceriaan. Keanehan-keanehan ini tidak lagi kupikirkan. Aku seakan lupa
dengan kejadian yang menimpaku saat ini.
***_____***
Suatu hari saat aku pergi ke hutan sendirian,
seorang sosok misterius menghampiriku dengan pakaian yang agak aneh. Dia
menjelaskan padaku mengenai waktu yang berjalan mundur di sini. Katanya, jarum
penunjukan waktu yang tampak sebenarnya adalah kebalikan dari waktu sebenarnya.
Sebagai contoh, jika waktu menunjukkan jam 10, maka sebenarnya pada saat itu
jam menunjukkan pukul 2. Waktu hanya menunjukkan sama jika menunjuk jam 6 atau
12.Lebih mencengangkannya lagi, dia menunjukkan sebuah peta dan cara keluar
dari hutan ini. Aku sangat gembira akan hal ini, tapi aku teringat dengan
mereka berempat. Mereka yang menolongku di saat kesusahan di sini.
Aku kemudian menceritakan semuanya pada mereka.
Aku bingung dengan semua ini. Memilih dua pilihan yang sangat sulit. Akhirnya
mereka memutuskan untuk ikut denganku keluar dari hutan ini, bersama-sama.
Akhirnya kulakukan juga perjalanan ini.
Semuanya sudah siap ikut denganku. Kami ikuti petunjuk-petunjuk dari peta satu
persatu. Terdapat tiga rintangan. Masing-masing rintangan sangat menguji
kekompakan dan persahabatan. Singkat cerita, kami akhirnya berhasil melewati
dua rintangan. Benar-benar ujian bagi persahabatan kami.
***_____***
Rintangan terakhir akhirnya sudah di depan
mata. Di sini terdapat sebuah “gerbang” (lebih nyatanya mirip) yang diapit oleh
dua pohon. Dan siapa yang tidak benar-benar niat keluar dari hutan ini, maka
dia tidak akan bisa melewati gerbang itu. Seperti sepele memang dan aku dengan
mudah bisa melewati gerbang itu. Tapi, mereka berempat tidak melangkahkan kaki
melewati gerbang. Kenapa? Katanya mereka ingin pergi bersama-sama denganku. Mereka
bilang katanya mereka memang tidak ingin keluar dari hutan ini. Hutan ini sudah
merupakan tempat tinggal bagi mereka. Aku berkata kenapa mereka membohongiku?
Mereka hanya menjawab “Kami tidak akan membiarkan sahabat kami berjuang
sendirian”. Sungguh aku terharu.
Aku memutuskan untuk kembali bersama
sahabatku. Tapi mereka menghentikanku, kata mereka aku harus bersyukur dengan
apa yang kupunya sekarang. Aku harus bersyukur karena mempunyai keluarga dan
orang tua yang baik. Air mata ini bercucuran tanpa henti. Kemudian aku
berteriak, “Jika aku pergi dan mungkin tidak akan pernah bertemu lagi dengan
kalian, apakah aku masih dianggap sahabat oleh kalian?”. Mereka hanya diam
kemudian berbalik dan melangkah. Lalu mereka mengangkat tangan kiri mereka dan
menunjukkan pita yang merupakan tanda persahabatan kami. Hiks... hiks... kami
memang akan menjadi sahabat selamanya. Aku pun menunjukkan tanda persahabatan
ini. Aku berteriak, “Kita akan menjadi sahabat selamanya!!”. Cahaya yang sangat
terang muncul di depan ku kemudian......
***_____***
Kubuka mataku. Humpphh... ternyata semua ini
hanya mimpi. Aku terbangun di tempat tidurku seperti biasanya. Luka saat
kujatuh dalam mimpi tadi tapi anehnya juga tampak di alam nyata ini. Apa?
Mungkin sebenarnya ini nyata... tapi..... luka ini tampak sedikit berbeda. Dan
ternyata ini hanyalah luka saat aku mengigau dan membentur tembok.
Aku berdiri bangun dari kasurku kemudian aku
melihat foto Kalifa, Lisa, Ray, Joni, dan aku sendiri dan dalam foto itu juga
ada pita yang sama dengan yang dalam mimpi. Pita itu juga tergeletak di samping
foto itu. Pikiranku masih kacau karena mimpi aneh tadi. Dan ketika aku keluar
kamar.... jreng.....
Kalifa, Lisa, Ray, dan Joni datang sambil
mengucapkan ulang tahunku yang ke-17. Akhirnya pikiran ini kembali tenang. Mereka
berempat memang sahabatku. Tanda pita persahabatan ini juga memang nyata dan
memang tanda persahabatan kami. Apa maksud mimpi tadi di ulang tahunku ini?
Apakah ini merupakan pesan dari tuhan agar persahabatan kami selalu terjaga??
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar