Jumat, 25 Januari 2013

17 dream


17 Dream
A
ww... pegal sekali badan ini. Pusing sekali kepala ini. Hanya rasa sakit yang terasa di tubuh ini. Tapi semua rasa sakit itu menghilang seketika ketika aku melihat keadaan di sekitarku. Sangat membingungkan. Di sekelilingku hanya terdapat pohon-pohon yang menjulang tinggi dan yang terdengar hanyalah suara kicauan burung dan riakan semak belukar yang diterpa angin. Sebuah tempat yang sangat tidak kukenali. Tapi kupikir ini hanyalah perasaanku saja karena rasa pusing yang terus menyerang kepala ini.
Ternyata bukan, semua ini bukanlah ilusi. Aku sangat yakin kalau aku sedang berada di sebuah hutan. Tapi bagaimana bisa? Aku ini adalah orang yang sangat anti dengan alam dan aku sama sekali tidak pernah ingat bahwa aku ingin atau berniat pergi ke tempat seperti ini. Apalagi tanpa membawa bekal apapun dan mengenakan pakaian yang sangat tak lazim untuk dipakai menjelajah. Hanya ada sebuah handphone dan jam tangan kesayangan yang ada.
Aku terus berjalan menyusuri seramnya hutan untuk mencari sumber air terdekat. Haus dan lapar sudah tidak bisa tertahankan lagi. Ya meskipun dengan sangat terpaksa tapi ini lebih baik daripada aku mati konyol di sini. Akhirnya kutemukan sebuah sungai dan mata air yang mengalir dengan indahnya. Tanpa pikir panjang aku pun langsung meminumnya dan juga mencuci muka agar pikiran menjadi lebih fresh.
Setelah pikiran menjadi fresh kembali, aku mencoba mengecek lokasi di mana aku berada dengan GPS. Tapi sungguh mengejutkan, GPS-ku tidak bisa menyebutkan dan melacak keberadaanku. Kok bisa? Apa GPS-ku rusak? Atau aku sedang berada di tempat terlarang yang tidak terjangkau GPS? Setelah aku cek, tidak ada masalah sama sekali dengan GPS-nya. Pulsa mencukupi, sinyal penuh, tapi kenapa lokasiku tidak terlacak? Atau aku sebenarnya sedang berada di negeri dongeng? Duh pikiranku makin ngawur saja.
Aku tidak kehabisan akal, kucoba menghubungi orang tua, teman, dan saudara. Yups teleponnya nyambung dan mereka angkat, tapi... tidak terdengar suara apapun. Hanya hening yang ada. Kucoba membuka situs jejaring sosial, tapi anehnya tidak ada satu pun situs yang bisa dibuka. Duh kacau nih. Aku termasuk orang yang gaptek akan masalah internet jadi aku tidak bisa melacak masalahnya lebih lanjut. Hanya kata “aneh” yang ada di kepala ini.
***_____***
Daripada bingung, aku teruskan aja perjalanan tidak pasti ini. Aku akan terus berjalan lurus dan jika terus berjalan lurus pasti aku akan menemukan jalan keluar. Hutan ini terlalu menakutkan untuk orang sepenakut aku. Terlebih lagi jika ada binatang buas yang tiba-tiba menyerang. Ah... sudah-sudah jangan berpikir yang enggak-enggak. Positive thinking.
Huuaa.... mencari jalan keluar tidak semudah yang aku pikirkan. Aku sudah mulai muak dengan hal ini. Aku mulai mengeluh dan marah-marah sendiri sampai-sampai aku menabrak sebuah pohon saking sudah ‘puyengnya’ kepala ini. Spontan aku tiba-tiba marah-marah pada pohon itu seperti orang gila. Tiba-tiba terdengar suara raungan harimau. Aku terdiam sejenak kemudian kembali marah-marah dengan memukul-mukul pohon itu. Suara raungan harimau pun kembali terdengar dan lebih keras dan lebih lama seolah-olah dia tidak suka dengan apa yang kulakukan. Aku berhenti marah-marah dan karena takut, tanpa pikir panjang aku langsung berlari menjauh dari pohon itu.
Tanpa disangka dan diduga, ketika berlari-lari aku tiba-tiba sampai di sebuah gubuk. Sejenak aku melihat gubuk kecil itu. Setelah kupikir aman, aku langsung memasuki gubuk itu. Pintunya tidak dikunci. Di dalamnya terdapat sebuah ruang makan, kamar, dan dapur. Mungkin di gubuk ini ada penghuninya. Tapi karena rasa lapar semakin menjadi-jadi, aku langsung memakan makanan yang ada dapur. Ya meskipun tidak semewah makananku sehari-hari, tapi mau bagaimana lagi, daripada aku mati kelaparan di hutan aneh ini.
Ahh... lega perut ini sudah kenyang. Kini rasa kantuk yang melanda karena lelah setelah berlari-lari di hutan aneh ini. Aku pun langsung pergi ke kamar. Busyet... kamarnya Berantakan sekali. Pikiranku langsung tertuju pada satu kata yaitu “lelaki”. Kamar siapa lagi yang Berantakan dan bau begini, pasti kamar laki-laki. Aku paling benci sama yang namanya lelaki. Bagiku semua lelaki di dunia ini sama saja. Bisanya cuma bermain-main dengan wanita. Aku pikir dengan sedikit membereskan kamar ini, aku akan menghilangkan bau lelaki yang ada di kamar ini. Rasa kantuk kutekan sejenak untuk mengubah aroma kamar ini. Setelah itu aku tidur.
***_____***
Prutt.... tidurku yang nyenyak tiba-tiba menghilang karena ada seseorang menyiramku. Setelah kulihat, ternyata dia adalah laki-laki.
Keyla : Aww... kenapa kau menyiramku, laki-laki?
Ray : Kenapa? Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau dan kenapa kau masuk istana orang sembarangan?
Keyla : Hah... istana? Gubuk kecil ini kamu bilang istana?
Ray : Gak usah ngalihin pembicaraan. Sekarang jawab aku. Siapa kamu dan mau apa kamu ke sini?
Keyla : Oke... aku akan jawab. Tunggu sebentar!
Aku kemudian bangun dari tempat tidur kemudian berjalan menuju ruang makan sambil mendongakkan kepala. Aku kemudian berduduk santai di sebuah kursi panjang pada ruang makan itu.
Ray : Mengapa kau malah diam di sana? Cepat jawab pertanyaanku.!!!
Keyla : Jangan membentakku seperti itu. Namaku Keyla. Aku sedang tersesat di hutan ini. Aku tidak tahu tiba-tiba ada di sini. Hutan ini juga sangat aneh. Sebenarnya di mana ini? Apa kau tahu jalan keluar dari sini?
Ray : Di sini adalah Jakarta. Tidak ada jalan keluar dari hutan ini.
Keyla : Jakarta? Jangan bercanda! Jakarta itu bukan hutan, melainkan perkotaan yang banyak gedung tingginya.
Ray : Terserah kau mau percaya atau tidak.
..... diam sejenak .....
Keyla : Apa benar-benar tidak ada jalan keluar dari hutan ini?
Ray : Ya, begitu lah.
Keyla : Terus kalau aku mau pulang gimana?
Ray : Entahlah.
Keyla : Jawaban macam apa itu? Apa kau itu tidak punya perasaan, dasar laki-laki!!?
Ray : Kalau tidak tahu ya mau gimana lagi??
Kemudian teman satu gubuk Ray yaitu Joni kembali dengan membawa buah-buahan dan daging mentah hasil berburu di hutan.
Joni : Aku pulang. Heh..?? siapa wanita ini, Ray?
Keyla : Ray?? Mengapa laki-laki primitif seperti kalian memiliki nama yang bagus?
Ray : Dia itu penyusup, Joni.
Keyla : Sudah kubilang aku ini tersesat, masih dibilang penyusup. Dasar laki-laki tak punya perasaan!!
Joni : Tersesat? Oh begitu.
Keyla : Lagi-lagi jawaban aneh. Hutan ini sama penghuninya sama saja. Umm... tunggu dulu, sepertinya... (pembicaraannya dipotong Ray)
Ray : Udah deh... kamu kan lagi tersesat, tapi meskipun kita dari kecil tinggal di sini. Tapi kita benar-benar gak tahu jalan keluar dari hutan ini. Kalau ingin mencari jalannya sendiri, silahkan. Tapi kita gak bisa bantu. Kita punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Keyla : Oke deh.
Dengan rasa kesal pun aku akhirnya keluar dari gubuk para lelaki itu. Tapi ada yang membuatku bingung. Aku merasa pernah melihat mereka tapi entah di mana. Aku mencoba mengeceknya di HP-ku. Tapi ternyata tidak ada satu pun foto mereka. Ah mungkin ini hanya perasaanku saja.
Sementara di gubuk, Ray dan Joni melakukan rutinitas mereka seperti biasa yaitu mencari makanan di hutan, memasak, makan, dan beres-beres.
***_____***
Menakutkan... hutan ini terlalu menakutkan untuk orang manja seperti ku. Aku memutuskan untuk kembali lagi ke gubuk Ray. Tentu ketika aku ke sana mereka tidak langsung menerimaku begitu saja.
Ray akhirnya menerimaku ke ‘rumah kecilnya’. Kali ini aku sedikit memperbaiki sikapku meskipun sebenarnya terpaksa. Aku membantu para laki-laki itu membereskan rumah mereka. Mau bagaimana lagi, sekarang inilah satu-satunya cara agar aku bisa selamat dari teror hutan ini.
Hari sudah mulai sore. Aku memutuskan untuk membuka HP  dan ingin mengubur kebosananku. Tapi... aku menemukan hal yang sangat aneh melebihi keanehan hutan ini. Waktu berjalan mundur. Tadi saat aku sedang di hutan, waktu menunjukkan jam 10.30, tapi kenapa sekarang waktu menunjukkan pukul 8 pagi? Aku mencoba bertanya pada Ray dan Joni, tapi jawaban mereka lebih mengejutkan, “Aku tidak tahu. Aku terbiasa menjalani waktu seperti ini.”... Hah..??? kurasa aku sedang berada di dalam sebuah dongeng.
***_____***
Satu hari telah berlalu. Aku melakukan sesuatu yang fatal dan tidak seharusnya kulakukan. Ketika aku membereskan kamar Ray, aku tidak sengaja memecahkan barang kesayangannya. Ray tidak mengerti meskipun aku bilang berkali-kali kalau aku ini tidak sengaja melakukannya. Ya... seperti yang kuperkirakan. Ray dan Joni melakukan sesuatu yang mengerikan padaku. Dengan alasan agar aku tidak mengganggu mereka lagi, aku diikat di sebuah pohon di tengah hutan. Kejam sekali. Begini kah sebenarnya sifat laki-laki? Aku mencoba berteriak-teriak. Tapi apa guna? Tidak akan ada yang menolongku di hutan menyeramkan ini. Aku kelelahan. Aku akhirnya ketiduran dalam keadaan terikat.
Huuaaahh.... aku terbangun di sebuah kasur. Aku terkejut melihat sesosok wanita membawa pisau. Pikiranku langsung tertuju pada pembunuh berdarah dingin. Sontak aku langsung lompat ke pojok kasur. Ternyata aku salah. Setelah mendengar penjelasannya, ternyata dia adalah orang yang menolongku saat diikat oleh Ray dan Joni. Aku mendengar penjelasan mereka. Kami saling curhat satu sama lain. Ternyata sungguh kelam kehidupan mereka. Mereka lebih memilih tinggal di hutan seram ini daripada hidup di rumah mewah bersama keluarga mereka. Sekali lagi aku merasa pernah melihat mereka berdua. Tapi kupikir ini hanyalah perasaanku belaka.
Namanya Kalifa. Orang tuanya sangat materialistis. Bagi mereka, uang dan harta adalah segalanya. Kalifa kabur karena mendengar bahwa orang tuanya berniat menjual dia pada salah satu keluarga bangsawan demi mendapatkan harta. Huummppphh.... kupikir aku harus bersyukur dengan kehidupanku sekarang.
Yang satunya lagi namanya Lisa. Dia merupakan teman Kalifa. Sama-sama keluarga dari orang kaya. Dia orangnya ingin kebebasan dan tidak ingin terikat aturan. Orang tuanya selalu mengatur dan menentukan apa pun mengenai Lisa dengan alasan itulah yang terbaik baginya. Padahal keinginannya tidak semuanya sama dengan yang diinginkan orang tuanya. Dia memutuskan untuk kabur bersama Kalifa. Hummphh... aku harus bersyukur lagi.
Aku bertanya apakah mereka tahu cara keluar dari hutan ini karena mereka semua tidak berasal dari hutan ini. Tapi mereka menjawab bahwa mereka tidak tahu jalan keluar dari hutan sini dan tidak mau tahu jalan keluar dari hutan sini. Mereka secara kebetulan kabur ke hutan ini. Huh... susahnya mencari informasi ini.
Kini giliran mereka yang bertanya padaku. Aku hanya bercerita bahwa aku ini tersesat dan bertemu dua orang kejam. Aku hanya bilang bahwa aku itu membenci laki-laki. Kalifa bertanya padaku alasannya. Tapi aku tidak menjawab banyak. Dia akhirnya mengingatkanku agar tidak harus membenci orang atas hal seperti itu. Dia bilang tidak semua laki-laki seperti itu. Dia memberikanku seorang contoh yang membuatku tersadar atas kebodohanku ini. Dia mengingatkanku akan banyaknya laki-laki di dunia ini yang telah berprestasi dan menjadi pahlawan bahkan untuk kaum perempuan. Akhirnya berkat sarannya, aku memutuskan untuk meminta maaf pada Ray dan Joni besok.
***_____***
Hari mulai pagi. Aku berencana membuat kejutan untuk Ray dan Joni. Ketika hari sudah agak siang. Aku pergi ‘menyusup’ ke rumah kecil Ray. Aku menyulap rumahnya menjadi sedemikian rupa dan aku juga menyiapkan makanan yang enak untuk dia. Tentunya dengan bantuan dua temanku, yakni Kalifa dan Lisa.
Jrenk... ketika mereka datang dengan membawa hasil hutan seperti biasa, seperti yang kuduga mereka terlihat senang dan berbinar-binar melihat kejutan dariku. Akhirnya aku menunjukkan diriku dan aku meminta maaf pada mereka. Ray tidak memaafkanku begitu saja. Mungkin karena teringat dengan barang yang kupecahkan itu. Jreng.... inilah sebenarnya kejutan dari ku. Aku memperbaiki barangnya sedemikian rupa sehingga terlihat seperti utuh kembali. Ray diam sejenak sambil menundukkan kepala. Tapi kemudian tiba-tiba dia berwajah senang dan ingin merangkulku. Sontak aku langsung menendangnya. Argghh... sifatnya masih saja menyebalkan. Kalifa dan Lisa kemudian menunjukkan diri mereka pada Ray dan Joni. Tidak kusangka ternyata mereka telah kenal sebelumnya. Meskipun sudah hampir 6 bulan tidak bertemu lagi.
Hari ini, kami berlima melakukan tukar cawan sebagai tanda persahabatan. Sebagai simbolisasi, kami juga mengikatkan pita pada lengan kiri kami. Mulai hari ini, kami berlima menjadi sahabat dan menjalani hari-hari dengan penuh ceria. Hutan mengerikan ini berubah menjadi hutan keceriaan. Keanehan-keanehan ini tidak lagi kupikirkan. Aku seakan lupa dengan kejadian yang menimpaku saat ini.
***_____***
Suatu hari saat aku pergi ke hutan sendirian, seorang sosok misterius menghampiriku dengan pakaian yang agak aneh. Dia menjelaskan padaku mengenai waktu yang berjalan mundur di sini. Katanya, jarum penunjukan waktu yang tampak sebenarnya adalah kebalikan dari waktu sebenarnya. Sebagai contoh, jika waktu menunjukkan jam 10, maka sebenarnya pada saat itu jam menunjukkan pukul 2. Waktu hanya menunjukkan sama jika menunjuk jam 6 atau 12.Lebih mencengangkannya lagi, dia menunjukkan sebuah peta dan cara keluar dari hutan ini. Aku sangat gembira akan hal ini, tapi aku teringat dengan mereka berempat. Mereka yang menolongku di saat kesusahan di sini.
Aku kemudian menceritakan semuanya pada mereka. Aku bingung dengan semua ini. Memilih dua pilihan yang sangat sulit. Akhirnya mereka memutuskan untuk ikut denganku keluar dari hutan ini, bersama-sama.
Akhirnya kulakukan juga perjalanan ini. Semuanya sudah siap ikut denganku. Kami ikuti petunjuk-petunjuk dari peta satu persatu. Terdapat tiga rintangan. Masing-masing rintangan sangat menguji kekompakan dan persahabatan. Singkat cerita, kami akhirnya berhasil melewati dua rintangan. Benar-benar ujian bagi persahabatan kami.
***_____***
Rintangan terakhir akhirnya sudah di depan mata. Di sini terdapat sebuah “gerbang” (lebih nyatanya mirip) yang diapit oleh dua pohon. Dan siapa yang tidak benar-benar niat keluar dari hutan ini, maka dia tidak akan bisa melewati gerbang itu. Seperti sepele memang dan aku dengan mudah bisa melewati gerbang itu. Tapi, mereka berempat tidak melangkahkan kaki melewati gerbang. Kenapa? Katanya mereka ingin pergi bersama-sama denganku. Mereka bilang katanya mereka memang tidak ingin keluar dari hutan ini. Hutan ini sudah merupakan tempat tinggal bagi mereka. Aku berkata kenapa mereka membohongiku? Mereka hanya menjawab “Kami tidak akan membiarkan sahabat kami berjuang sendirian”. Sungguh aku terharu.
Aku memutuskan untuk kembali bersama sahabatku. Tapi mereka menghentikanku, kata mereka aku harus bersyukur dengan apa yang kupunya sekarang. Aku harus bersyukur karena mempunyai keluarga dan orang tua yang baik. Air mata ini bercucuran tanpa henti. Kemudian aku berteriak, “Jika aku pergi dan mungkin tidak akan pernah bertemu lagi dengan kalian, apakah aku masih dianggap sahabat oleh kalian?”. Mereka hanya diam kemudian berbalik dan melangkah. Lalu mereka mengangkat tangan kiri mereka dan menunjukkan pita yang merupakan tanda persahabatan kami. Hiks... hiks... kami memang akan menjadi sahabat selamanya. Aku pun menunjukkan tanda persahabatan ini. Aku berteriak, “Kita akan menjadi sahabat selamanya!!”. Cahaya yang sangat terang muncul di depan ku kemudian......
***_____***
Kubuka mataku. Humpphh... ternyata semua ini hanya mimpi. Aku terbangun di tempat tidurku seperti biasanya. Luka saat kujatuh dalam mimpi tadi tapi anehnya juga tampak di alam nyata ini. Apa? Mungkin sebenarnya ini nyata... tapi..... luka ini tampak sedikit berbeda. Dan ternyata ini hanyalah luka saat aku mengigau dan membentur tembok.
Aku berdiri bangun dari kasurku kemudian aku melihat foto Kalifa, Lisa, Ray, Joni, dan aku sendiri dan dalam foto itu juga ada pita yang sama dengan yang dalam mimpi. Pita itu juga tergeletak di samping foto itu. Pikiranku masih kacau karena mimpi aneh tadi. Dan ketika aku keluar kamar.... jreng.....
Kalifa, Lisa, Ray, dan Joni datang sambil mengucapkan ulang tahunku yang ke-17. Akhirnya pikiran ini kembali tenang. Mereka berempat memang sahabatku. Tanda pita persahabatan ini juga memang nyata dan memang tanda persahabatan kami. Apa maksud mimpi tadi di ulang tahunku ini? Apakah ini merupakan pesan dari tuhan agar persahabatan kami selalu terjaga??
THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar